Dia adalah dewa yang menduduki kursi tertinggi di Olympus.
Zeus namanya. Sebagai raja dari para dewa ia lah yang menguasai alam
semesta. Dengan petirnya, ia selalu ditakuti oleh siapa pun. Mahkota
yang dipakai di kepalanya semakin menegaskan bahwa ia adalah pemimpin
alam semesta.
Zeus juga selalu datang ke bumi,
menyamar seperti manusia. Untuk mengetahui apa saja yang terjadi di
bumi. Walau pun ia masih bisa mengawasi manusia dari puncak Olympus.
Tapi mungkin itu tidak cukup bagi Zeus. Kata beberapa orang yang katanya
pernah bertemu dengan Zeus, Zeus selalu menanyakan hal-hal yang aneh,
yang selalu membingungkan manusia. Orang-orang juga meyakini bahwa dia
itu adalah Zeus. Dan setelah ditelusuri, orang yang selalu menanyakan
pertanyaan yang tidak sesuai dengan nalar manusia itu tidak pernah ada
di kota. Dari situ lah masyarakat telah meyakini bahwa Zeus selalu
menyamar sebagai manusia dan turun ke bumi.
Tetapi
ketika masyarakat telah meyakini bahwa Zeus selalu mengawasi kita. Ada
gosip yang menyeruak di masyarakat, katanya ia telah menghamili seorang
wanita. Adalah ucapan dari Sinsions yang mengatakan “sungguh aku telah
bersetubuh dengan Zeus”, ia juga mengatakan bahwa ketika ia bertemu
dengan Zeus dan saat Zeus masih menyamar sebagai manusia, ia telah
bercinta dengannya. Semula Sinsions tidak tau bahwa orang itu adalah
Zeus. Akan tetapi setelah Zeus menyetubuhinya, lalu Zeus langsung pergi
ke langit dan mengepakan sayapnya kemudian berkata “aku ini adalah
Zeus”.
Senin, 21 Mei 2012
Kamis, 15 Maret 2012
Inilah Kita
Waktu itu ketika aku masih setia di depan layar televisi, saat hujan membasahi atap rumah-rumah yang kering. Gemuruh guntur terdengar sangat kencang, menggetarkan hati. Kemarau telah memberi kata pada awan, menyuruh menurunkan hujan. Dan ketika itu malam telah dipenuhi oleh ketakutan-ketakutan.
Aku sadar, bahwa kita mahluk berakal yang tak lepas dari kesombongan. Telah membelok dari jalan yang lurus, bahwa keinginan adalah segalanya. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Tuhan telah menciptakan kita dengan sempurna, kebaikan adalah landasan hidup dan keburukan adalah pelajaran. Tinggal mana yang mau kita pilih?
Hari ini, hari dimana aku berpikir sebagai mahluk yang berakal, kita adalah orang yang pintar, tapi kepintaran kita dipakai untuk keburukan. Biarlah, semoga orang sadar bahwa dirinya akan mati, kematiaanya akan sunyi seperti malam dan takut seperti mendengar suara guntur.
Aku bergegas mengambil segelas air teh untuk menghangatkan badan karena hujan telah memberi dingin.
Minggu, 01 Januari 2012
Dimana Rinduku Berada
Merpati itu mengingatkanku ketika kita duduk memandang langit
Bersama lebah-lebah yang menghisap sari bunga
Menebarkan butiran-butiran benang sari pada putik
Lalu kita saling tumpahkan rindu
Ketika mata lama tak saling menatap
Tersimpan rasa dalam hati
Kita selalu memungut kasih
Lalu kita rangkai menjadi cinta
Sekarang hati mulai retak
Hanya merpati yang mengingatkanku pada rindu
Lama tak kujumpai kau
Bersama rerumputan dan kelopak bunga yang berguguran
Kini bayangmu mengingatkanku pada lebah
Lebah kuning kesukaanmu
Lebah yang memberi warna pada hari-hari
Kini lebah itu telah tiada
Meninggalkan rindu pada hari-hari yang ku jalani
Hingga sekarang tak kutemui lagi lebah yang memungut sisa-sisa rindu dihati
Yuris Fahman Zaidan
271211
Bersama lebah-lebah yang menghisap sari bunga
Menebarkan butiran-butiran benang sari pada putik
Lalu kita saling tumpahkan rindu
Ketika mata lama tak saling menatap
Tersimpan rasa dalam hati
Kita selalu memungut kasih
Lalu kita rangkai menjadi cinta
Sekarang hati mulai retak
Hanya merpati yang mengingatkanku pada rindu
Lama tak kujumpai kau
Bersama rerumputan dan kelopak bunga yang berguguran
Kini bayangmu mengingatkanku pada lebah
Lebah kuning kesukaanmu
Lebah yang memberi warna pada hari-hari
Kini lebah itu telah tiada
Meninggalkan rindu pada hari-hari yang ku jalani
Hingga sekarang tak kutemui lagi lebah yang memungut sisa-sisa rindu dihati
Yuris Fahman Zaidan
271211
Selasa, 20 Desember 2011
Kado Termurah
Ingatkah ketika merpati datang
mengantarkan surat kepada hati
bersama rerumputan hijau
aku tanam mawar
ku beri pupuk bernama rasa
lalu angin menyapu butiran-butiran cinta
menuju abadi
setelah tumbuh mawar
aku petik,
dan kuberikan
seiring gerimis telah memudarkan perselisihan
kini matahari terus menerangi
tak henti-hentinya padam
walau mendung berusaha masuk
guntur risihkan keadaan
ombak berdatangan
sampai magma ingin keluar
lalu hancurkan keadaan
tapi aku berpesan pada Tuhan
melalui bisikan malam
semoga cinta abadi
sampai burung-burung membawa ruh kita menuju illahi
tak ada lagi gagak yang hitamkan keadaan
kini hitam telah pudar
putih merpati telah menyapunya
akhirnya
putih mengantarkan kita menuju kedamaian
mengantarkan surat kepada hati
bersama rerumputan hijau
aku tanam mawar
ku beri pupuk bernama rasa
lalu angin menyapu butiran-butiran cinta
menuju abadi
setelah tumbuh mawar
aku petik,
dan kuberikan
seiring gerimis telah memudarkan perselisihan
kini matahari terus menerangi
tak henti-hentinya padam
walau mendung berusaha masuk
guntur risihkan keadaan
ombak berdatangan
sampai magma ingin keluar
lalu hancurkan keadaan
tapi aku berpesan pada Tuhan
melalui bisikan malam
semoga cinta abadi
sampai burung-burung membawa ruh kita menuju illahi
tak ada lagi gagak yang hitamkan keadaan
kini hitam telah pudar
putih merpati telah menyapunya
akhirnya
putih mengantarkan kita menuju kedamaian
Rabu, 14 Desember 2011
Jum'at
Pagi datang, bawakan dingin rasuki tubuh
Angin menyapa melalui dinding kamar
Tak ketinggalan, kabut hinggap di dedaunan
Burung mulai bertengger dipepohonan
Berkicau untuk pagi
Lalu matahari segera menjemput pada siang
Menjemput pada kesucian
Dimana adzan mulai berdatangan
Lalui gendang telinga sampai menyentuh hati
Menggerakan kita pada air suci
Ku siram tubuh sampai pudar kebencian
Setelah itu
Aku bersiap memasuki pintu kedamaian
Bersiap bertemu dengan-Nya
Semoga aku diterima
dan pintu dibukakan
Yuris Fahman Zaidan
09122011
Angin menyapa melalui dinding kamar
Tak ketinggalan, kabut hinggap di dedaunan
Burung mulai bertengger dipepohonan
Berkicau untuk pagi
Lalu matahari segera menjemput pada siang
Menjemput pada kesucian
Dimana adzan mulai berdatangan
Lalui gendang telinga sampai menyentuh hati
Menggerakan kita pada air suci
Ku siram tubuh sampai pudar kebencian
Setelah itu
Aku bersiap memasuki pintu kedamaian
Bersiap bertemu dengan-Nya
Semoga aku diterima
dan pintu dibukakan
Yuris Fahman Zaidan
09122011
Senin, 05 Desember 2011
Kepada Wanita Disana
Aku masih ingat ketika senyum itu kulihat
Ketika aku merangkai kata-kata
Dulu sebelum kau hilangkan rasa
Sinar selalu terangi hati
Tapi berbeda
Kini mendung datang
Gerimis telah menghapus cerita yang telah kita buat
Kini puisi itu bukanlah jejak
Bagimu hanyalah sebuah sampah
Tanah telah jadi saksi
Saksi dari selembar kertas berisikan puisi
Biarlah, biarlah bumi melahap rangkaian kata
Rangkaian kata yang telah kubuat bersama rasa
Mekar mawar kini telah layu
Cinta memudar
Memudar ditelan waktu
Ketika aku merangkai kata-kata
Dulu sebelum kau hilangkan rasa
Sinar selalu terangi hati
Tapi berbeda
Kini mendung datang
Gerimis telah menghapus cerita yang telah kita buat
Kini puisi itu bukanlah jejak
Bagimu hanyalah sebuah sampah
Tanah telah jadi saksi
Saksi dari selembar kertas berisikan puisi
Biarlah, biarlah bumi melahap rangkaian kata
Rangkaian kata yang telah kubuat bersama rasa
Mekar mawar kini telah layu
Cinta memudar
Memudar ditelan waktu
Rabu, 30 November 2011
Mati
Denyut nadi mulai berhenti
Detak jantung mulai mati
Tangis jatuhi bumi lihat kau tertidur kaku.
Orang-orang berkata “berduka cita”
Bunga telah siap harumkan tanah
Keranda mulai di angkat menuju sepi
Sepi dari kehidupan di bumi.
Saat kau tinggalkan keluarga tercinta
Ruh mulai naik pada pencipta
“Tidak mungkin, tidak mungkin” ucap istri tak percaya.
Nisan segera di tancapkan
Orang-orang segera pergi meninggalkan
Ulat mendekat terus menggerogoti. Malam tiba suara burung hantu menyelimuti.
Hanya beberapa helai kain putih yang kau pakai
Kini angin telah menyapu harum mawar
Tanah telah kembali usang
Bersama kau yang tinggal tulang.
Tak ada lagi canda tawa
Kenangan tangiskan keadaan
Cinta pergi, berlalu bersama waktu
Do’a mulai di panjatkan
Sang istri pun berkata “terimalah dia, terimalah dia”
Berharap Tuhan mendengar.[]
Detak jantung mulai mati
Tangis jatuhi bumi lihat kau tertidur kaku.
Orang-orang berkata “berduka cita”
Bunga telah siap harumkan tanah
Keranda mulai di angkat menuju sepi
Sepi dari kehidupan di bumi.
Saat kau tinggalkan keluarga tercinta
Ruh mulai naik pada pencipta
“Tidak mungkin, tidak mungkin” ucap istri tak percaya.
Nisan segera di tancapkan
Orang-orang segera pergi meninggalkan
Ulat mendekat terus menggerogoti. Malam tiba suara burung hantu menyelimuti.
Hanya beberapa helai kain putih yang kau pakai
Kini angin telah menyapu harum mawar
Tanah telah kembali usang
Bersama kau yang tinggal tulang.
Tak ada lagi canda tawa
Kenangan tangiskan keadaan
Cinta pergi, berlalu bersama waktu
Do’a mulai di panjatkan
Sang istri pun berkata “terimalah dia, terimalah dia”
Berharap Tuhan mendengar.[]
Langganan:
Postingan (Atom)